Napak Tilas Ke Situs Batur Agung

situs batur agung - tampak depan

Ceritanya berawal dari niatan untuk ikut lomba blog visit Jawa Tengah yang mengambil tema Cagar Budaya. Bertepatan pula dengan Hari Jadi Kabupaten Banyumas ke-433 yang jatuh pada bulan April, konon mulai tahun depan Hari Jadi Kabupaten Banyumas akan diperingati pada bulan Februari. Saya pun memilih tema yang berkaitan dengan legenda Raden Kamandaka. Namun meski sudah bela-belain pada H-2 lomba ke Situs Cagar Budaya di Batur Agung, tulisan ini urun diikutsertakan karena berbagai hal (^^v).

hutan batur agung

Lokasi Petilasan Batur Agung berada di Dusun Pondok Lakah, Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas. Berada di sebelah barat Kecamatan Baturraden, dengan pemandangan perbukitan, dan sawah yang memanjakan mata.

pemandangan menuju batur agung

Beberapa tahun yang lalu, di sekitar lokasi Cagar Budaya Batur Agung sempat dikembangkan area wisata alam dengan fasilitas outbond, arung jeram, area bermain air, dan ATV. Sayang sekali tempat wisata tersebut hampir sudah tidak terurus dan terbengkalai begitu saja. Hanya sempat ramai pada awal-awal saja  :(.

situs batur agung - pak sobirin

Ini adalah kali kedua saya masuk ke petilasan, kali ini ditemani oleh @IdaDwiyulia. Siang itu, akhirnya menemui juru kunci hutan Batur Agung, Pak Sobirin namanya. Sebelum masuk ruang petilasan, kami pun mendengarkan cerita Pak Sobirin mengenai pekerjaannya sebagai juru kunci Batur Agung yang sudah diembannya selama 22 tahun. Selain itu beliau juga menjelaskan bahwa di Batur Agung hanyalah tempat persinggahan dan orang-orang yang datang ke tempat tersebut untuk berziarah biasanya dari daerah Bali hingga Banten.

Menurut silsilah asal mula nama Batur Agung, Batur yang berarti tempat, Agung yang berarti besar atau mulia. Kebanyakan peziarah yang datang dengan berbagai ritual dan maksud yang beragam.

petilasan batur agung

Pak Sobirin dengan bersemangat bercerita tentang legenda Lutung Kasarung, Raden Kamandaka yang memiliki nama asli Raden Banyak Cotro berasal dari Kerajaan Pajajaran. Raden Banyak Cotro memiliki keinginan untuk mempersunting Dewi Ciptoroso putri Kadipaten Pasir Luhur (sekarang dikenal dengan sebutan Purwokerto), dalam usahanya tersebut menemui beberapa masalah. Selain harus menyamar sebagai rakyat biasa, ia pun merubah namanya menjadi Raden Kamandaka.

Raden Kamandaka pun sempat menjadi buruan prajurit Kadipaten Pasir Luhur, dalam pelariannya tersebut akhirnya Raden Kamandaka bertapa, dan mendapatkan petunjuk harus menetap di Batur Agung. Ketika berada di Batur Agung dan melanjutkan bertapanya, Raden Kamandaka pun memperoleh wangsit baju Lutung Kasarung. Yang kemudian dipakainya untuk menyamar demi mendapatkan Dewi Ciptoroso.

batur agung - isi benda cagar budaya

petilasan batur agung - sesajen

petilasan batur agung - kemenyan

Setelah mendengarkan cerita tersebut, kami dipersilahkan untuk masuk ke ruang petilasan. Di dalamnya hanya terdapat benda purbakala berupa batu yang menyerupai wujud seperti ; betara guru, betara naraga, togog, bawor, semar, loro jonggrang, lumpang, dan rebana. Dan menurut penelitian, semua benda purbakala tersebut dibuat pada masa Sebelum Masehi (SM).

Kami pun  diajak keliling di hutan Batur Agung sembari menjelaskan pohon dan tanaman yang ada di dalamnya. Meskipun hutannya tidak terlalu luas, namun beberapa pohon ada yang usianya sudah ratusan tahun dan puluhan tahun lho… Pohon tinggi menjulang dan rimbun, serta tanah dan bebatuan yang berlumut. Benar-benar menyenangkan berada di sana.

.

Thanks buat : @IdaDwiyulia yang sudah menemani jelajah 🙂

4 Komentar


  • Teruslah berkarya krma setiap momen yang anda tulis adalah sejarah
    .


  • Kok cerita macam materi FTV yah, anak orang kaya menyamar jadi warga biasa untuk memacari si cewek super cantik, bahasa modernnya kaya gitu kali ya. Endingnya gmna?


    • ending lutung kasarung??

      hmm… wes lali jane hehe… ^^V

Tinggalkan Balasan