Camping Ceria Di Ranukumbolo KW 2 (Telaga Dringo), Desa Batur – Banjarnegara

Perjalanan ini bermula dari tiga orang teman dari Jakarta (Nanda, Tris, Putu) yang berencana ke Dieng dan sempatin singgah ke rumah. Mereka bertiga hendak mendaki ke Gunung Prau, dan Telaga Dringo (Ranukumbolo KW 2).

Awalnya saya menolak keras untuk ikut, karena baru kemarin lusa ke Dieng juga tidak suka dengan keramaian Gunung Prau sekarang. Namun Anggie (teman asli Jawa Timur) yang kebetulan sedang main ini pun ikut – ikutan ngomporin untuk menyusul pas camping ke Telaga Dringo karena dia sendiri belum pernah kesana. Hmm, akhirnya luluh juga meski harus membatalkan beberapa janji. Jadilah dalam tempo seminggu kurang saya ke Dieng dua kali  (-__-“).

Menyusul dengan Anggie hari Sabtu dengan memakai motor, dan seperti dugaan semula perjalanan dari Wonosobo ke Dieng macet karena banyaknya wisatawan :|. Sampai di Dieng, sempatin mampir ke rumah Pram dan mengajaknya ikutan camping *sebagai korban rayuan, saya nyari korban juga dong hehe… 

Peta rute menuju Telaga Dringo :

.

peta ke telaga dringo

.

Meski sudah diberi arahan paling enak, rupanya ketiga teman dari Jakarta gila juga :D. Turun dari simpang dua malah jalan kaki sampai Telaga Dringo, kita pun akhirnya bertemu di pos tiket Kawah Candradimuka. Sebagai rasa solidaritas, motor dititipkan ke rumah warga dan ikutan jalan rame – rame. Meski belum ada aturan yang jelas, sebenarnya tiket masuk itu untuk pengunjung yang hendak ke Kawah Candradimuka. Tetapi karena melewatinya untuk yang ke Telaga Dringo pun ditarik tiket Rp. 5000 per orang.

.

pemandangan dari ladang warga

.

jalan menuju telaga dringo

.

Melewati jalan beraspal dan ladang warga menyusuri perbukitan *dibandingkan dulu, sekarang jalan sudah diaspal untuk menuju ke telaga, hanya ada jalan berbatu sedikit di bawah sebelum pos tiket. Rupanya perjalanan sedikit butuh pengorbanan, Anggie yang sedari awal disuruh mengikuti langkah kaki saya mencoba bereksperimen untuk menginjak tanah basah. Alhasil salah satu kakinya masuk terlalu dalam, dan perlu dua orang buat narik keluar (v__v).

Yang menyenangkan sore itu hanya ada dua tenda milik kami disana, lalu beberapa tenda menyusul didirikan. Tapi tetep…. masih lebih baik dari keramaian Gunung Prau dan Sikunir yang mencapai ribuan pendaki pada hari yang sama :).

.

camping telaga dringo

.

Oh iya, ada kejadian kurang mengenakkan, setelah mendirikan tenda tiba – tiba ada dua orang yang mengaku menjaga keamanan Telaga Dringo. Meminta uang untuk kebersihan dan keamanan, per regu ditarik Rp. 15.000. Dari awal ketika membayar karcis tidak diberi penjelasan kalau nanti akan ditarik uang lagi. Yang lebih kesel, ternyata sampahnya bukan dibawa mereka turun ke bawah, tapi dikumpulkan di balik pepohonan, alasannya nanti kalau sudah banyak mau dibakar (-__-“). Setelah tanya teman yang asli sana lewat pesan, kemungkinan orang tersebut dari pabrik gas. Sebenarnya bukan masalah uang, tapi semestinya ada penjelasan dari petugas tiket, dan semestinya kalau memang sebagai uang kebersihan, sampah – sampah yang masih ada dibawa ke bawah bukan sekedar dipindah tempatkan saja :|.

Camping ceria paling gokil, terlebih kelakuan Putu sama Nanda yang berkali – kali bikin sakit perut :D. Malam hari disuguhi pemandangan yang menakjubkan, lautan bintang, juga planet Venus, dan Mars yang terlihat lebih terang di langit. Rasanya tidak salah memilih camping ke sini, tenang, sepi, banyak spot menarik, dan kalau mau menikmati sunrise hanya perlu menaiki Gunung Cemeti beberapa menit saja jalan kaki.

.

seru-seruan di telaga dringo

.

yoga - telaga dringo

.

menikmati telaga dringo - olipe dan anggie

.

Rencana untuk naik ke Cemeti pun gagal, satu karena dingin menusuk tulang, dua karena terlalu dingin dan tiga karena dinginnya bikin males buat kemana – mana haha… tapi menikmati sunrise dari tempat kami mendirikan tenda pun sudah cukup. Langit pagi itu pun luar biasa indah, Tuhan Maha Cantik…

.

sunrise - telaga dringo

.

sunrise dari telaga dringo

.

narsis dulu di telaga dringo

.

Ada yang tak kalah nikmat, masak dan sarapan pagi keroyokan dengan view Telaga Dringo :). Tak lupa kumpulin sampahnya untuk dibawa pulang.

Sebelum jalan pulang, foto bareng dulu *minjem bendera dan tenda pendaki lain 😀 dan mampir ke Kawah Candradimuka.

.

camping di telaga dringo

.

kawah candradimuka

.

.

Terima kasih buat teman perjalanan : Nanda, Tris, Putu, Anggi, dan Pram.

9 Komentar


  • wah keren mbak olip, tengkyu buat infonya, rencana minggu ini mau ke Dringo juga nih, mo kemping dewekan, mbok kancani aku juga mba, haha

    http://www.idiotraveler.com


    • Wah kl minggu ini jadwal full kak Abeng ?

      Next time mungkin 🙂
      Ayo ke Pwt saja jelajah sini…


  • mbak mau nanya, dari penginapan bu djono masih jauh? naik mikrobus wonosobo-dieng turun dimana ya? makasih 🙂


    • Halo Keke…
      Kalau dari penginapan Bu Djono masih lumayan jauh. Ikut petunjuk jalan yang ke arah Kawah Candradimuka. Soalnya posisi di atasnya kawah. Kalau naik mikrobus dari Wonosobo, minta turun di pertigaan arah Sumur Jalatunda. (kernet biasanya tahu). Dari situ naik ojek saja, soalnya kalau jalan lumayan jauh…


  • KW nya kebablasan kak. Hahahaha.
    Penarikan retribusi makin marak gak jelas, begitulah dampak perkembangan wisata yg tidak selaras kesadaran warga sekitar.


    • Bener banget… Dan paginya kyknya ada perangkat desa yg ninjau lokasi. Entah mo dibangun apaand -,-


      • Kalo bawa mbil parkir dmna ya mb..trs dri tmpat parkir brpa jauh jlannya? Lg hamil soalnya..


        • Pagi Mba Metty…
          mobil parkir pinggir jalan, lalu berjalan ke telaga. sekitar 150-200m.
          dari kawah candradimuka ke telaga jalan sudah halus sekarang…
          sbnrnya kl smpe lokasi bisa, tergantung yg nyetir 🙂

Tinggalkan Balasan