Cerita Di Balik Toilet Dan Aksi Tenggelam Heroik

jelajah

.

Tulisan ini sengaja dibuat jauh dari hari kejadian biar para pelaku sudah lupa. Bermula dari tamu pembicara sebuah workshop yang terdampar di rumah. Jarang – jarang nih yang singgah itu pembicara, biasanya kalau tidak anak backpacker ya anak orang yang lagi males tidur di rumah ^^V. Sedikit kurang pede karena (1) rumah berantakan, (2) rumah jarang dibersihkan, dan (3) kedua jawaban tadi benar semua :D. Info awal, tiga tamu dari Jakarta bertambah menjadi empat, lalu berkembangbiak tamu dari Solo satu, dan satunya lagi dari lokalan Purwokerto saja. Nah total berapa sama saya?

Setelah menunggu satu jam lebih di bawah jembatan stasiun, akhirnya datang juga… Rencana semula mereka mau saya traktir makan soto jalan bank yang terkenal itu, ternyata mereka menolak karena sudah makan di kereta. Well, saya langsung bersyukur karena tidak perlu keluar duit hahaha… *kidding

Request dari Mr. Sok Yes si Apris mereka mau diajak ke Curug Nangga. Okelah saya setuju saja, lagian belum pernah kesana semenjak jadi terkenal. Satu mobil diisi tujuh sebenarnya bikin ngeri pas tanjakan, untungnya yang nyetir memang sudah lulus SIM (^_^). Ternyata memang perubahannya banyak sekali, entah ada berapa belas warung kecil sepanjang jalan menuju curugnya. Dan dibuatkan juga toilet umum buat mandi untuk pengunjung yang berenang di curug.

Sampai Curug Nangga hari sudah sore, hanya tinggal beberapa pengunjung saja. Nah salah satu tamu dari Jakarta, buat nyamarin sebut saja namanya Mba Sita ini ternyata takut ketinggian. Dan meski bertubuh sangat bongsor dan takut, tetap saja mencoba buat turun ke lokasi curug. Hebat? iya… Maksain diri? Iya juga hehe… Akhirnya berhasil turun dibantu oleh bapak – bapak warga setempat. Saya sendiri memilih jalan belakangan, dan menyusul mereka yang sedang istirahat di warung terakhir. Saya, Mba Sita, dan Taufik memilih tinggal, sedangkan Mba Jannah, Bang Opik, Fadli, dan Apris turun ke curug.

Lalu Mba Sita… (masih ingat kan), Mba Sita ini yang phobia ketinggian, rupanya menahan cemas hingga berefek sakit perut dan keringat dingin. Dia pun memilih naik lagi karena sakit perutnya berubah jadi “panggilan”, naik dengan dikawal oleh Taufik. Saya… menjaga barang – barang bawaan sambil menyaksikan empat orang berfoto ria di curug (-__-).

Hmm, tak senang mereka foto terlalu banyak *kidding saya pun memanggil mereka untuk segera naik dengan alasan sudah waktunya untuk pulang. Sampai setengah perjalanan rupanya Mba Sita belum juga sampai ke lokasi toilet. Dan naasnya lagi, pas sudah sampai toilet semuanya dikunci :|. Demi panggilan dan kelancaran metabolisme tubuh, dengan sangat memaksa Mba Sita menyuruh semuanya lekas ke tempat parkiran mobil, dia sendiri langsung mencari semak – semak *bagian selanjutnya saya sensor yah :D. Selepas maghrib baru melanjutkan perjalanan ke Purwokerto, selama di mobil Mba Sita pun bercerita “pesan dan kesan” di Curug Nangga.

Sebelum makan malam, mobil kembali ke stasiun menjemput Yuda yang datang dari Solo. Jangan terkecoh sama namanya yang berbau cowok, anak baru lulus SMA ini asli cewek *kalau ndak percaya, buka saja IGnya @praeskayuda hehe… Jadi, berapa total orang di mobil sekarang?? :O

Umaeh Inyong jadi pilihan makan malam, konon katanya Mba Jannah mendoan krispinya enak banget. Kenyang makan, pulang juga ke rumah. Dan antrian mandi pun serasa di rumah kost << peristiwa langka ini… Hampir semua sepakat langsung tidur, kecuali saya yang harus jaga pintu gegara Apris harus cek persiapan workshop sampai jam duabelas malam (-__-).

Belum ada tiga jam terlelap alarm Mba Jannah bunyi dan sukses bikin tidak bisa tidur lagi. Saya yang paling semangat bangun buat ikutan workshop niiih…

Rencana ke Pancuran Tujuh selepas acara pun gagal, karena kegiatan workshop berlangsung sampai jam tiga sore lebih, dari rencana hanya sampai jam setengah tiga. Akhirnya diganti ke Curug Bayan, dan berenang di aliran sungainya yang berada di bawah DAM Jepang, di atas Curug Gede. Yang cewek memilih air dangkal buat mainan air, sedang anak cowok memilih kedung dengan kedalaman sekitar tiga meter.

Kali ini Bang Opik jadi tokoh utamanya. Buat yang belum paham, saya kasih ciri – cirinya deh… Tubuh tegap, ada beberapa tato di badan, bakat kesasar, dan terlihat bisa olah raga apa saja. Nah pas Fadli dan Apris dah loncat buat berenang, Apris pun menyuruh Bang Opik ikut berenang. Bang Opik pun bilang kalau tidak bisa berenang, Apris yang tidak percaya masih mencoba membujuk Bang Opik buat lompat. Dasar Bang Opik, merasa yakin banyak yang akan nolong dia pun meloncat….byuurrr.

Lalu hening… … …

Melihat ada yang tidak beres karena Bang Opik tidak juga muncul ke permukaan, akhirnya Apris mencoba untuk menolong. Naasnya, Apris pun terbawa makin ke dalam dan meminum banyak air. Setelah berhasil naik lagi ke atas, gantian Bang Opik bantuin Apris yang lemas gegara minum banyak air. Selama berlangsung kejadian ini, para cewek yang ada di sisi atas tidak ada yang tahu. Baru tahu setelah kumpul bareng hendak kembali ke parkiran mobil.

.

tamu dari jakarta

.

Setelah kemarin kejadian Mba Sita, lalu Bang Opik juga Apris sepertinya saya lega mereka sudah kembali pulang. Yang menyenangkan, rumah saya jadi ramai. Kalau mereka lama disini, entah ada berapa banyak lagi kejadian konyol dan bikin was – was sama kenekadan mereka hehe… (^^v). Tapi tentu saja mereka tetap anak muda hebat yang peduli dengan lingkungan juga keanekaragaman hayati di Indonesia. Iya, rasanya saya beruntung bisa berkenalan langsung dengan mereka. Makin banyak sahabat, makin banyak saudara, makin banyak pembelajaran hidup… 😉

Mei 28, 2015 12:45 am 1 Comment

1 Komentar

Tinggalkan Balasan