Penculikan Yang Terencana, Ke Bogor Hingga Jakarta

Melihat judulnya saja mungkin sedikit geli, tapi demikianlah adanya. Saya menyerahkan diri sepenuhnya untuk diculik oleh teman – teman dari Jakarta. Skenario pun dirancang, penjahat yang baik hati sebutlah namanya mba Sita Rani yang rencananya menculik saya ke Bogor (tentunya masih ingat Cerita Di Balik Toilet Dan Aksi Tenggelam Heroik, kalau belum silahkan baca tulisannya di blog ini hehe).

Saya sebagai korban memang tidak paham jalan blas akhirnya pasrah saja sewaktu jam 23.30 wib sebuah mobil berhenti dan memberi kode lewat lampu depan mempersilahkan saya masuk ke mobil. Ternyata untuk melancarkan aksinya Mba Sita Rani dibantu oleh Mba Inna. Sepanjang jalan menuju Bogor saya disudutkan oleh cerita tentang bawahan dan atasan. Penuh intrik. Bagaimana sebuah kalimat yang disusun sedemkian rupa sehingga bisa merubah wajah garang seketika menjadi teduh. Saya pun menahan senyum, terntunya karena tidak berani tertawa *ingat, saya sedang diculik lho 😀

Hampir jam dua kurang memasuki kota Bogor. Mobil berhenti disebuah warung tenda, Mba Sita Rani menawarkan makan dini hari, saya tolak dan memilih memesan jahe susu. Akhirnya sekitar jam 2.30 wib sampai di rumah Mba Inna, jangan tanya rute menuju kesana… yang saya hafal cuma ada dua belokan, ke kanan dan ke kiri hehe… Bila yang lain bersiap menghadap bantal, saya memilih mandi. Entah kerasukan apa saya mau mandi dini hari (-__-“), praktis hanya bisa terpejam selama satu jam lalu mandi pagi (lagi) sebelum akhirnya diajakin Mba Sita Rani ke Kebun Raya Bogor (KRB).

.Kebun Raya Bogor

.Kebun Raya Bogor -

.

Kebun Raya Bogor ini konon luasnya sekitar 80 Ha, ketemu  Fadhli Sofyan lalu diajak keliling KRB. Entah jalan berapa kilometer kalau ditotal, yang jelas saya dan  Fadhli Sofyan disuruh Mba Sita Rani untuk ke taman anggrek terlebih dahulu, sedangkan dia sendiri mencari tempat parkir yang ternyata lamaaaaaa sekali sampai akhirnya menghubungi kalau sedang asik duduk di Grand Garden Cafe & Resto sembari menyantap Poffertjes *kejam lagi karena ngetag di IG padahal kita pun harus jalan yang lumayan jauh untuk sampai ke cafe dedaunan (T_T).

.Grand Garden - Cafe Dedaunan Kebun Raya Bogor

.Grand Garden - Kebun Raya Bogor

.

Di Grand Garden ketemu Mba Jannah Adam dan Bang Taufik Muhamad yang menyusul dari Jakarta. Penculik yang baik selalu menawarkan pada korbannya ingin jalan – jalan kemana, sayang beribu sayang saya beneran buta Bogor (v_v). Pada akhirnya disepakati untuk kuliner dulu ke Kedai Kita dan melanjutkan ke puncak *asik – asik 🙂 Buat yang belum tahu Kedai Kita, silahkan googling.

Kedai Kita itu… yang begitulah, saking ramainya pengunjung kita kadang harus antri kalau mau makan. Setelah menunggu setengah jam (sempat dipanggil sampai lima kali antrian dan tidak ada diantara kita yang denger hehe), akhirnya masuk juga. Pelayanannya lamaaaa, sepertinya memang tempat makan ini dikhususkan buat orang yang berjiwa sabar. Dari mulai antri dapat tempat duduk sampai menunggu makanan dan minuman datang, dari datang dengan keadaan lapar saking lamanya menunggu sampai akhirnya pas makanan datang saya sudah tidak lapar lagi (^_^).

Penculikan seru masih berlanjut…

.

macet itu indah

.

Fadhli Sofyan pamit buat ‘absen’ sewaktu masih di KRB, digantikan Mba Inna yang dijemput di lampu merah haha… *seriusan (((lampu merah))). Kalau biasanya saya cuma lihat di tivi soal kemacetan jalan menuju puncak, kali ini ngerasain sendiri, mobil berhenti hampir sekitar dua setengah jam. Sampai diselingi jalan – jalan, nemenin Mba Inna cari kamar kecil ke rumah warga, lihat orang main futsal di pinggiran tol, dan nyoklut diselingi obrolan ngalor – ngidul… :D.

.

makan malam dulu

pasar malam cisarua.

Berhubung besok pagi – pagi sekali harus kembali ke Jakarta untuk ikutan Festival Panen Raya Nusantara (PARARA), menimbang situasi jalan yang macet, akhirnya sepakat hanya ke Masjid AT-Ta’awun Cisarua. Ternyata di sekitar masjid ini masih bisa menikmati pemandangan bukit bintang sembari menyantap jajanan tradisional di pasar malamnya. Ceritanya lagi asik – asiknya di pasar malam, lalu si Apris Nur Rakhmadani kasih kabar kalau menyusul ke Bogor dan sudah sampai di stasiun *hadeeh…

Paginya menuju PARARA di Lapangan Banteng bareng Mba Jannah Adam, Bang Taufik Muhamad, Mba Sita Rani, dan Apris Nur Rakhmadani.

.

.

To be continue? bisa…bisa jadi… 

.

Big thanks buat Mba Jannah Adam, Bang Taufik Muhamad, Mba Sita Rani, Mba Inna, dan Fadhli Sofyan yang sudah bikin skenario menculik saya buat keliling Bogor, seruuu sekali (>_<). Buat Apris Nur Rakhmadani  selamat yes sudah masuk tulisan meski di paragraf terakhir doang hehe… (^^v)

Tinggalkan Balasan