Gayatri Rajapatni – Random

Dear Gayatri Rajapatni

.

.

Barangkali seucap kata atau satu huruf menjadi begitu susah untuk dilafalkan atau ditulis. Lalu kemudian semua elemen penyertanya ikut berpartisipasi, diam. Kopi tak bisa lagi menjadi bahan obrolan. Tak bisa aku membaca cuaca yang sering berganti, tak bisa aku lihat si abu – abu yang ada diantara hitam dan putih. Waktu bukan lagi menjadi sebuah pertanyaan, kapan? Dan jarak, seolah – olah memakan kenangan. 

Aku tiba – tiba ingat film yang kemarin aku lihat ; bercerita tentang beberapa mahasiswa kedokteran yang senang bereksperimen – sengaja bunuh diri (dimatikan) lalu kemudian dihidupkan kembali dengan alat pacu jantung ketika jantung berhenti. Mereka melakukan eksperimen tersebut hanya alasan satu hal ; mendapatkan kembali kenangan yang sempat hilang. 

Rasanya… sedikit mengerikan berfikir seandainya aku mencoba juga eksperimen itu  :|

.

apa kabar - gayatri rajapatni

.

Ada kalanya berhenti menjadi pilihan. Seperti sekarang ini, aku berhenti mengganti si biru, dan secara mengejutkan beberapa waktu yang lalu si merah pergi menyusul dengan mendadak. Akupun akhirnya berhenti mengganti keduanya. Menyedihkan? Iya. Kesalahan tentunya ada padaku. 

.

Lalu sebuah pertanyaan muncul : bagaimana rasanya kehilangan?

Rasanya barangkali seperti sekarang. Bisa jadi rasa kehilangan itu hanya sepihak, yang tentu saja dipihakku. Mungkin Tuhan sedang mencoba berkelakar. Kehilangan huruf – huruf yang biasanya berjejer, ternyata sama saja rasanya dengan tidak membaca. Jika rindu itu bisa dengan mudah diobati dengan membuka buku dan membacanya , lalu bagaimana dengan rindu terhadap huruf yang berjejer pada layar kecil sebesar 5′??

Gayatri, dimanapun kamu… jangan lupa untuk bahagia.

Tinggalkan Balasan