#Part 4 : Pantai Mali Dan Rumah Adat Takpala, Alor – NTT

Hari kedua di Bumi Sejuta Moko…

Masih merasa tidak percaya kalau sudah berada di Alor, NTT. Anjing bernama Hujan milik rumah sebelah menggonggong, seolah menyadarkan kalau di tanah kelahiran saya tidak begitu banyak anjing berkeliaran. Saya terbangun ketika belasan mata sudah lebih dulu menyambut pagi dan bersiap menuju daerahnya masing – masing untuk mengajar. Termasuk Mei dan Murni kawan saya yang harus ke Kokar.

Beberapa tempat yang hendak dijelajah hari ini berada di sisi timur kota Kalabahi. Yang pertama yaitu Pantai Mali. Yang lokasinya berdekatan dengan Bandar Udara Mali, Kec. Kabola, sekitar 30 menit dari Kalabahi dengan menggunakan motor.

.

Pantai Mali - perahu nelayan

.

Pantai Mali - Alor - bareng teman

.Pantai Mali di Alor

.

Pantai Mali atau pantai lainnya di Alor hampir semuanya berpasir putih dan mempunyai pemandangan yang luar biasa indah, dengan airnya yang terlihat biru atau hijau toska. Selain itu semua pantai di Alor belum ada tiket masuknya :D. Dari Pantai Mali sebenarnya ada keinginan untuk menyeberang ke Pulau Sika, biasanya bisa dilakukan dengan jalan kaki ketika air surut. Hanya saja ketika kesana air naik, sayang sekali… (-__-“)

.

Pantai Mali - Alor

.

Pantai Mali - Alor - NTT

.

Pantai Mali - Kabela - Alor

.

Oh iya, di Pantai Mali banyak banget spot untuk foto… mulai dari hamparan pasir putih, deretan perahu nelayan, pantai dengan bebatuan karang, pohon bakau, atau kerumunan anak yang sedang mencari ikan dengan tombak. Salah satunya Benjamin, murid SD setempat yang sedang menghabiskan liburan sekolah bersama teman – temannya. Mencari ikan dengan tombak sudah Benjamin lakukan semenjak kelas 3. Dengan bertelanjang dada, lalu berenang dengan gesit hanya dengan bantuan kacamata renang sederhana dan tombak dari batangan besi. Tangannya lincah di dalam air, dengan mudahnya mendapatkan ikan. Beberapa ikan hasil tangkapannya langsung dipanggang, sisanya dibawa pulang. Lihat ikannya sebenarnya kasihan, hehe… soalnya kalau di Jawa, ikannya buat isi aquarium >__<

.Pantai Mali - mencari ikan

.

Pantai Mali - tombak ikan

.

Menjelang sore, perjalanan dilajutkan ke Desa Adat Takpala, yang berlokasi di Desa Lembur Barat, daerah Buka Piting. Bila ditempuh dari kota Kalabahi dengan motor sekitar 30 menit, dapat juga naik oto jurusan Buka Piting. Bilang saja mau ke Desa Adat Takpala, lalu dilanjut dengan jalan kaki sekitar 700 meter.

.

Desa Adat Takpala - Alor

.

Sampai di parkiran, sempat bertemu dengan Ester, Maria, dan Christ yang sedang memetik buah jambu hitam. Mereka mahir sekali naik pohon tinggi :D. Penasaran, akhirnya saya pun mencoba buah tersebut. Buah kecil berwarna hitam ini rasanya sepat dan sedikit masam. Tidak bisa dibilang enak untuk lidah saya (^_^).

.

Desa Adat Takpala - Alor - NTT

.

Desa Adat Takpala di Alor, NTT

.

Dari parkiran jalan kaki sekitar 100 meter, terdapat undakan naik sampai ke Rumah Adat Takpala. Pohon rindang nan asri banyak terdapat di rumah adat. Total semua ada 14 rumah adat, yang dihuni oleh beberapa KK saja *lainnya sudah pindah di bawah. Penduduk adat ada yang menjual hasil kerajinan mereka ; seperti gelang, kalung, selendang tenun, hingga kain tenun. Pengunjung juga diperbolehkan meminjam pakaian adat, biasanya nanti ada juga dari orang adat yang memakai pakaian adat lengkap untuk menemani berfoto. Berhubung tidak ada tiket masuk biasanya pengunjung memberi uang seikhlasnya. Untuk sewa baju adat biasanya dihitung IDR 25.000 / baju *bonus guide yang menjelaskan dengan lengkap tentang Rumah Adat Takpala beserta kesehariannya.

.

Rumah Adat Takpala - Alor - NTT

.

Pakaian Adat - Takpala - Alor

.

Rumah Adat Takpala di Alor, NTT - Moko

.

Rumah Adat Takpala - kerajinan khas - Alor

Saya sempat masuk ke dalam rumah adat. Setiap rumah terdiri atas tiga lantai. Lantai pertama untuk berkumpul (semacam ruang tamu), lantai kedua untuk tidur dan memasak (ternyata ada perapiannya lho di dalam, hebatnya tidak bikin kebakaran :O), lalu lantai paling atas digunakan untuk menyimpan hasil pertanian dan perkebunan. Sewaktu di lantai dua melihat Moko, dibuat dari tembaga yang biasanya digunakan sebagai mas kawin. Makin rumit ukirannya, maka makin bernilai, Moko juga bisa diwariskan dan bisa digunakan untuk mahar lebih dari satu orang.

Sayangnya, semakin kesini penduduk yang memilih tetap tinggal di kampung tradisional makin berkurang. Mereka memilih tinggal di bawah, tentunya dengan tempat tinggal (rumah) pada umumnya. Kurangnya perhatian pemda setempat terhadap penduduk asli di Desa Adat Takpala bisa dilihat ketika saya berbincang dengan mereka. Waktu itu, saya tergelitik, apakah penduduk adat juga mendapatkan kartu BPJS / KIS. Rupanya hanya beberapa KK saja yang mendapatkannya. Entah kenapa tidak mendapatkan semuanya, padahal kalau dipikir, mereka perlu diberikan jaminan kesehatan semua. Bukankah pemda setempat sering memakai ‘jasa’ mereka hanya untuk pamer mengenalkan bahwa di Alor juga terdapat orang adat *walah, malah bahas birokrasi 😀

Hari sudah hampir malam, kami pun memilih untuk menyudahi kunjungan ke Rumah Adat Takpala. Kembali ke sekre SM-3T di Kalabahi… Semoga saja kearifan budaya Takpala tetap terjaga dan bisa bertahan sampai kapanpun.

4 Komentar


  • Hai Olipe, kalau dari kota ke Takpala kan naik oto jurusan Bukit Tiping. Nah, ketika ingin kembali, apakah ada oto juga? Lalu, di Alor, apakah ada rent motor? Jika ada, berapakah harganya? Terimakasih banyak 🙂


    • ada kok oto-nya…cuman hrs nunggu, enaknya naik motor sih..

      motor sewaan di pak gendut, deket sama bank BNI. email saja ke olipe.oile@gmail.com nanti aku kasih kontak kawanku disana… barangkali bs bantuin kl ada apa2… 🙂

      salam…


  • Inii keren bangett mba olipe..

    impian ku pingin ke Indonesia Timur, pingin main sama anak anak asli sana. Pasti jadi pengalaman menarik


    • Aamiin… semoga bs terlaksana Gil..
      Km dah ke Sumbar blm?

Tinggalkan Balasan