Karena Kopi Selalu Bisa Menunggu Untuk Disedu

coffee

.

Di luar hujan, sedikit berbumbu kilat. Seolah mengingatkan, langit sudah berbaik hati menahan diri sampai kaki ini kembali melangkah ke rumah. Pun ketika diingatkan orang – orang di rumah sudah menunggu, seolah alam berkata, memberi tanda. Melewati belasan kali hujan, puluhan ribu detik waktu… hanya untuk segelas kopi. Aku selalu berujar ; tidak seperti waktu, kopi selalu bisa menunggu untuk disedu.

Kenapa kopi? Apa yang membuatmu jatuh cinta pada segelas kopi? Salah satu teman ngopi dari Bandung bilang, “Mungkin karena pahit yang tidak berusaha ditutup-tutupi” . Lain lagi dengan komentar teman ngopi dari Purwokerto, ia berujar, “Yang bikin jatuh cinta ke kopi itu sama saja kayak aku jatuh cinta ke dia, tanpa alasan…”. “Karena semua tentang kopi selalu menyenangkan…”, kata salah satu penikmat kopi lainnya.

.

karena kopi selalu bisa menunggu untuk disedu

.

Ah iya, semuanya benar… yang salah adalah ketika kangen kopi yang serasa menggebu – gebu namun susah menyesuaikan waktu :D. Rindu kopi yang beradu dengan cerita ini itu, juga rindu pelaku. Pagi ini kopi datang sebatas imajinasi. Tak mengapa… segelas kopi rindu memang layak ditunggu *katanya…

.

.

Thanks buat Andhin, Vilma, dan Bro Wawan….

 

4 Komentar


  • Quote ku kok gak dipake? :((


    • Bahasane ambigu owg…
      mosok karena ada kopi dan kamu ??

      Ntar tak pke wes ning dialog tulisan laine ?


  • Top mba! Aku suka kopi, kapan kita bisa ngopi bersama? 🙂
    Salam yaa..


    • Salam kenal juga Shudai…

      Apanya yg TOP? 😀
      Ayo ngopi…

Tinggalkan Balasan