Menghitung Kopi (Sabar)

kopi

.

Kalau boleh berhitung, entah sudah berapa waktu dihabiskan untuk menunggu, entah sudah berapa cangkir kopi habis sedang belasan pesan tak pernah digubris. (Rasa) sabar sesungguhnya tidak perlu dihitung. Tapi anggaplah ini sekedar untuk pengingat diri sendiri, rupanya lumayan sabar, entah untuk alasan apa. Atau barangkali Tuhan lebih tahu, kenapa aku begini dan kamu masih selalu begitu…??

Dalam keadaan sadar tanpa mabuk oleh kopi, pernahkah kita bertanya ; kenapa masing-masing keras kepala begini? *jangan bilang karena ‘tanduk’ kita sama-sama kerasnya. Simpati vs antipati.

Kemarin, hari ini, mungkin bahkan lusa dan seterusnya bukan tidak mungkin aku masih tetap minum kopi sambil menunggu hape dalam genggaman bergetar. Atau bahkan sebaliknya? Ada satu titik, memberi tanda untuk menyerah…

Kopi malam ini lagi-lagi kandas. Di layar ada tanda kehidupan dalam diam. Berulang kali menulis, sebanyak itu pula aku menghapus… ah (v__v,)>

Oktober 8, 2016 7:25 pm Boleh dikomen

Tinggalkan Balasan