Ruang Tunggu Stasiun

stasiun kereta api

.

Stasiun. Tak ubahnya seperti bandara atau terminal bus, tempat persinggahan sementara. Dua hari belakangan mencoba mengingat, entah kapan terkahir kali ke sana. Ruang tunggu selalu jadi favorit, entah menunggu untuk kereta yang hendak dinaiki atau menunggu seseorang. Aku bebas jadi mau jadi apa di sini ; jadi orang yang cuek serius baca dengan headphone di kepala, jadi orang peduli dengan berbagi tempat duduk, atau sebagai pemerhati orang yang lalu lalang di hadapan.

Sebuah pesan memintaku datang, entah untuk apa ke ruang tunggu stasiun. Tuhan memang terkadang mengajak bercanda dengan caraNya. Aku memang sedang rindu duduk di ruang tunggu. Lalu tanpa banyak ba bi bu, datanglah pesan itu.

.

kursi tunggu stasiun

.

Sebuh tepukan di pundak, memintaku menurunkan headphone. Jadi, rupanya yang mengirimkan pesan sudah datang. Seperti prajurit hendak perang, dengan tas di punggung dan tangan, lalu tangan satunya lagi penuh dengan makanan. Kalimat pertamanya, ” Mau pergi ke mana?”. Eh??

Sayang lagi susah senyum, tentu saja hari itu lumayan bikin lelah selain memang belum fit. Aku menyuruhnya duduk, lalu dia memaksaku menyuapiku makan jajanan yang sebenarnya tidak sedang selera makan dan dengan asiknya menghabiskan setengahnya kemudian. Kalimat keduanya, ” Jangan sok sibuk banyak kegiatan, sakit itu disembuhin dulu…”.

Suara nyaring operator mengumumkan kereta untuk ke timur sudah siap, kami masih belum beranjak hingga lima menit sebelum keberangkatan. Ah, rupanya sudah waktunya bagian yang tidak mengenakan. Apalagi kalau bukan soal pamitan. Aku tidak tahu untuk apa ke ruang tunggu stasiun, untuk barter sebuah pelukan dan usapan kepala. Atau barangkali memang tidak ada alasan. Atau memang Tuhan sedang mengajak bercanda dengan caraNya.

.

November, 2016.

November 8, 2016 10:23 pm Boleh dikomen

Tinggalkan Balasan