#Cerita Kopi : Ketika Teman Ngopi Pergi

purwokerto malam

.

Ah, bukankah kota ini begitu membekas? Berkeliling kota saat hujan atau gerimis melanda, jalanan sepi saat pergantian hari, kedai kopi yang sudah menyuguhkan keakraban, rupa-rupa wajah orang yang dikenal ataupun tidak, juga sekelumit kericuhan yang datang dan pergi setiap harinya. Oh yeah, kita pernah sepakat tentang hal itu.

Teman Ngopi saya itu kadang terlihat begitu angkuh, dan cuek. Bisa jadi buat dia menangis itu seolah hal pantangan, apalagi terlihat menye-menye… Semesta seolah memberi pertanda, perpisahan tanpa rasa sedih. Sudah terwakilkan oleh langit yang berhari-hari menurunkan hujan. Kopi yang pernah kami sesap bersama bisa jadi pula yang terakhir. Pun begitu dengan pertemuan yang entah kapan hari itu mungkin yang terakhir.

.

kopi

.

Sebuah pesan elektronik masuk selang beberapa hari kepergiannya… wajah angkuh dan cuek itu ternyata begitu takut akan perpisahan yang berujung pada kesedihan. Sengaja olehnya menghindari segala bentuk kenangan ; dari kopi hingga orang-orang yang dia kenal. Siapa sangka Teman Ngopi begitu sentimentil, dan bukankah itu sungguh menyebalkan sekaligus menggelikan 😀 *sebentar, biarkan tawaku membahana hahaha… 

Hei Teman Ngopi…, terima kasih untuk tawa di kedai kopi dan juga untuk kerusuhan selama ini 🙂

.

.

Purwokerto beriring hujan, menuju pergantian hari.

Januari 19, 2017 11:10 pm Boleh dikomen

Tinggalkan Balasan