Part 2 : Edukasi & Konservasi Ke Gunung Anak Krakatau

Setelah diskusi panjang semalam yang kami lewatkan, peserta Lampung Krakatau Festival 2017 akhirnya diperbolehkan untuk turun ke Pulau Gunung Anak Krakatau. Tahun ini memang sengaja dijadwalkan pagi, karena pada tahun sebelumnya selalu siang namun banyak peserta yang kelelahan bahkan pingsan.

Pukul tiga pagi saya sudah siap, lalu membangunkan yang lainnya juga cottage sebelah! Langit mendung dan sempat gerimis sebentar. Lagi – lagi saya sedikit parno membayangkan penyebrangan dua jam menuju pulau dengan cuaca seperti ini. Dalam kondisi minim penerangan, kami harus memasuki perahu.

Rupanya ombak hari ini lebih seram dibandingkan kemarin. Berkali – kali perahu kami kemasukan air meski jendela sudah ditutup. Sedikit heran sama Mba Rai, Mba Vika, dan Bena yang bisa terlelap sampai tujuan (-__-,). Sayang, cuaca mendung menutupi sunrise hari itu. Tapi tak mengapa, apapun rupa senja dan pagi selalu saja mengagumkan buat saya. Terlebih di tengah laut dan di kelilingi beberapa pulau kecil 🙂

.

sunrise - selat sunda - gunung anak krakatau

.

sampai di pulau gunung anak krakatau

.

Sebagian peserta memilih sarapan begitu sampai di pulau, saya sepertinya tiap pagi harus gigit jari karena menu nasi uduk yang tidak pernah bisa saya santap. Ceritanya pendeknya sih saya alergi santan atau kelapa… 😀

Pulau Gunung Anak Krakatau

Pulau ini terbentuk setelah letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus tahun 1883 silam. Saat itu, letusan dahsyatnya yang diperkirakan melebihi bom atom Hirosima dan Nagasaki ini bahkan sampai menelan korban jiwa sebanyak 35.000 orang lebih di seluruh penjuru dunia. Akibat meletusnya Gunung Krakatau, di kawasan kaldera purba muncul Pulau Rakata, Pulau Rakata Kecil (Pulau Panjang), dan Pulau Sertung. Gunung Anak Krakatau muncul 40 tahun kemudian, dan setiap tahunnya mengalami penambahan 0,5 meter setiap bulannya. Saat ini kurang lebih ketinggiannya mencapai 350 meter di atas permukaan laut.

.

cagar alam krakatau

.

blogger - cagar alam krakatau

.

Dan semenjak tahun 1990, setiap tahunnya diadakan Lampung Krakatau Festival untuk memperingati meletusnya Gunung Krakatau. Tahun ini LKF ke-27 dan sekitar 200 peserta diantaranya para blogger, fotografer, instagramer, youtuber, dan jurnalis yang beruntung diundang untuk napak tilas. Keberadaan Gunung Anak Krakatau merupakan wilayah cagar alam yang memang bukan tempat wisata ini harus sering didengungkan. Pengarahan singkat oleh jaga wana mengenai kawasan cagar alam, bagian dari kawasan konservasi yang harus dilindungi dan tidak sembarang orang bisa ke sana.

Untuk bisa menapakkan kaki ke wilayah cagar alam ini, kita harus mengantongi ijin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Bandar Lampung. Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) tentu akan keluar jika memang kegiatan yang akan dilakukan tidak mengganggu  dan tetap menjaga lingkungan kawasan cagar alam.

.

napak tilas krakatau

.

puncak anak krakatau

.

gunung anak krakatau

.

Perjalanan kali ini beruntung menemukan teman baru yang ‘klop’. Bena rupanya sepemikiran, sama – sama ingin cepat sampai ke pundak Gunung Anak Krakatau agar  lekas turun juga. Jadi makin banyak waktu untuk istirahat di tepi pantai.  Didampingi oleh jaga wana kami menyusuri kawasan hutan lalu berlanjut di daerah berbatu dan berpasir. Meski ada jalur langsung yang menanjak, oleh petugas jaga wana disarankan melalui jalur yang landai. Pendakian terbilang aman, udara sejuk pagi hari itu dinaungi oleh awan mendung.

.

puncak gunung anak krakatau

.

IMG-20170826-WA0063

.

view dari pundak gunung anak krakatau

.

Sampai pundak Gunung Anak Krakatau suguhan ciamik ada di sepanjang mata memandang. Sungguh, betapa Tuhan Maha Romantis bisa menciptakan. Saya pun membayangkan, apabila berpadu dengan langit membiru alangkah kerennya. Kenapa biru? Karena saya pemuja biru 😛

Memisahkan dengan lainnya yang baru sampai, saya dan Bena turun melewati jalur satunya. Sebelum turun Mas Arya yang nampak kecapean meminta air mineral yang saya bawa (yah… banyakin saja merokok Mas biar setrong haha ^^V). Sempat bertemu dengan Mba Evi dan Mas Arief Rachman yang masih berjuang naik dengan semangat. Ngomong – ngomong, kami berdua sempat salah ambil jalur pas di daerah hutan. Tapi dengan segera langsung tersadar dan bisa sampai di pantai segera…

.

Bena - benbernavita

.

Bena dan Hanum

.

menuruni gunung anak krakatau

.

Perjalanan kembali ke Dermaga Boom selama empat jam mendapat hambatan, mesin perahu yang kami tumpangi mendadak mati di tengah – tengah ombak besar. Sempat melihat keluar, posisi perahu belum lama melewati Pulau Sebesi. Spontan untuk berjaga, saya memakai rompi (life jacket), aroma solar memenuhi ruangan perahu saat awak perahu mencoba membetulkan mesin. Sontak perut saya langsung bereaksi, mual. Ingat Bena yang mabuk laut, saya membangunkan Bena dari tidurnya, memintanya pindah ke belakang biar tidak pengap oleh asap dan solar.

Perahu kami bergoyang mengikuti gelombang, awak perahu perlu sekitar limabelas menit membetulkan mesin. Sisa perjalanan menuju Dermaga Boom pun dilewati dengan siksaan perut mual efek aroma solar tadi. Saya memang tidak mabuk laut, tapi tidak bersahabat dengan bau solar. Beruntung tidak sampai muntah seperti Bena, setidaknya jadi meninggalkan jejak saat mengarungi Selat Sunda ya Ben 😛

Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat dermaga… membangunkan teman – teman yang tertidur kelelahan. Di parkiran, bus bandara sudah siap menjemput kami untuk mengantar ke Bandar Lampung mengikuti acara Parade Budaya.

.

.

Thanks Mas Indra dan Mas Arief Rachman sudah motret Olipe, huhuw jadi punya foto pas di atas >_<

10 Komentar


  • Aku juga udah mual eneg, tapi sok cool. Hahahaha😂.


    • Hmmm…. Ternyata yah m.molly… 😆😆😆


  • kak. yg bener jaga wana pake spasi…..


  • TOLONG YA MBAK OLIEP MALAH MENCERITAKAN AKU YG MABOK LAUT, IHHHHHHHHHHH


    • gak detail kok :p
      akuh pun mabok goyangannya ombak laut :))))


  • Itu aku masih muka bantal, Mbak.. Ombaknya bikin mual banget dah karena jam 3 pagi..

Tinggalkan Balasan